Fdi in China

1. Introduction Foreign Direct Investment (FDI) berkembang sangat pesat diseluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir ini. FDI adalah sumber private capital terbesar bagi negara–negara berkembang dan yang sedang mangalami transisi ekonomi. Dari beberapa penelitian mengenai FDI, ditemukan dampak–dampak positif terhadap negara–negara berkembang tersebut.

Beberapa dampak positif yang di hasilkan adalah membantu negara tersebut untuk meningkatkan capital stock, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan produktifitas serta pendapatan tenaga kerja bagi negara–negara tersebut, yang juga merupakan beberapa faktor-faktor yang dapat membantu negara–negara tersebut untuk meningkatkan GDP. Hasil dari beberapa penelitian juga dengan jelas mengindikasikan bahwa dengan meningkatnya inflow FDI ke dalam suatu negara juga berpengaruh kepada meningkatnya human capital accumulation. China adalah salah satu negara yang banyak mengambil keuntungan dari masuknya FDI.

Sampai pada tahun 1978, china memberlakukan ‘close door policy’ dimana penanaman modal asing tidak diperbolehkan sama sekali. Namun setelah tahun 1978, dengan aturan dan regulasi yang mengatur inflow FDI, china berusaha untuk menarik investor luar negeri menanamkan modal / membuka usaha di cina melalui ‘special economic zones’ ( SEZ ) dan ‘economic dan technological development zones ( ETDZ ). Setelah lebih kurang 20 tahun kemudian, pada tahun 2002 nilai FDI stock mencapai $448 milyar yang merupakan terbesar diantara negara berkembang dan nomor dua terbesar diantara negara maju.

Pada periode yang sama, tingkat buta huruf diantara populasi yang berumur 25 tahun keatas menurun dari 44. 9% di tahun 1980 menjadi 20. 9% di tahun 2000. Tingkat populasi yang masuk sekolah juga meningkat 69% dan tingkat kelulusan mulai dari sd, sekolah menengah, kejuruan serta universitas juga meningkat dengan tajam.

2. Latar Belakang Sebelum tahun 1970-an, akibat “closed door policy” pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sumber daya manusia China sangat terbatas. GDP per kapita tahun 1978 hanya RMB 379 dan lebih dari 50% penduduk usia 25 tahun keatas tidak bersekolah dan rata-rata tahun bersekolah hanya 3,4 tahun sementara itu tidak ada perdagangan luar negeri dan investasi asing di China.

Pada tahun 1978 China membuka langkah pertama untuk mengundang masuk investor dengan mengeluarkan undang-undang “The Law of Chinese – Foreign Joint Ventures” yang prinsipnya adalah memperbolehkan investasi asing masuk dimana saja di Cina tetapi dengan persetujuan pemerintah China dan dengan syarat yang ketat.

Pemerintah China kemudian dengan cepat menyadari bahwa undang – undang ini tidak cukup baik untuk menarik minat investor asing untuk masuk. Kemudian pada tahun 1980 pemerintah China mengeluarkan undang – undang baru dan membentuk zona SEZ yang pertama yang terletak di propinsi Guandong dan propinsi Fujian. Pada tahun 1988 zona SEZ yang kelima dibuka yang berlokasi di pulau Hainan. Zona – zona ini mendapatkan fasilitas khusus dari pemerintah China berupa insentif pajak khusus bagi investasi asing dan kebebasan yang lebih luas mengenai aktivitas perdagangan internasional.

Lebih jauh lagi pemerintah China membuka ETDZ zone pertama di 14 kota di pesisir timur China ( termasuk dalam zona ini Shanghai ) antara september 1984 dan agustus 1986. Sama dengan SEZ, ETDZ meliputi area yang lebih kecil dengan lokasi didekat pantai atau kota yang terbuka. Peran ETDZ untuk Cina sangat penting karena zona ini membangun industri high tech yang fokus kepada project industri yang menyerap dana asing dan dapat membangun ekonomi dengan orientasi export. Perusahaan multinasional yang ada di ETDZ juga mendapatkan fasilitas yang sama seperti perusahaan yang ada di SEZ.

Diantara tahun 1993 – 1994 pemerintah China membangun zona kedua dari ETDZ yang mengcakup 18 kota ( termasuk dalam zona ini Beijing ) dan diantara 2000 – 2002 zona ketiga ETDZ dibuka yang mengcakup 12 kota/area ( termasuk dalam zona ini Mongolia, Tibet ). Program yang ditawarkan pemerintah China kepada investor asing ini memang sangat menarik khususnya bagi investor yang export oriented. Pada tahun 1970an investasi masih sedikit, meningkat secara moderat pada tahun 1980an dan meningkat pesat pada 1990an. Puncak inflow FDI terjadi pada dekade tahun 1997 dimana nilai investasi asing yang masuk mencapai US$ 45 milyar.

Terdapat dua gelombang nyata arus FDI ke China yaitu tahun 1984 dan 1992-1993 3. Model Ekonometrik & Sumber Data Penunjukan ETDZ mempengaruhi waktu, tingkat dan lokasi dari FDI yang dapat diungkapkan dengan kerangka ”difference to difference” untuk meneliti pengaruh FDI terhadap perkembangan sumber daya manusia di China. Hal ini melibatkan perbandingan pada perubahan pencapaian tingkat pendidikan dimana ETDZ berperan dengan provinsi dimana ETDZ tidak berperan. Alasan metode ‘difference-in-difference digunakan adalah, karena terjadi dua kali perubahan peraturan yang mempengaruhi FDI.

Yang pertama terjadi perubahan diantara tahun 1984 – 1986 dan yang kedua terjadi perubahan peraturan pada tahun 1993. Oleh karena itu penulis berusaha membandingkan zona dengan keadaan dan kondisi yang sama. Dalam hal ini dialkukan observasi dilakukan di provinsi – provinsi dari 1978 – 1983 dan dibandingkan dengan observasi yang dilakukan di zona antara 1987 – 1992. Kedua 7 propinsi di ETDZ yang dibangun pada 1990 awal dibandingkan dengan ETDZ yang dibangun sebelum 1999. Dengan demikian perbandingan dapat dilakukan dengan kondisi atau situasi yang relatif sama.

Selain itu alasan lain adalah antara 1978 – 1999 ada sekitar 28. 9% dari data flow FDI yang hilang dan butuh waktu untuk melihat efek dari hadirnya perusahaan – perusahaan asing terhadap perubahan di level pendidikan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah “China: Government Expenditure, Growth, Poverty and Infrastrucutre, 1952 – 2001. Data ini dikumpulakn oleh International Food Policy Research Institute ( IFPRI ) dari berbagai sumber seperti World Bank, China Rural Statistical Yearbook dan lain – lain. 4.

Hasil Penelitian dan Kesimpulan Dengan berkembang pesatnya inflow FDI ke Cina, kehidupan masyarakat khususnya di pedesaan mendapatkan harapan untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka. Karena selama ini kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan sangat sulit dan mereka hidup dalam kemiskinan. Lapangan pekerjaan yang diciptakan membutuhkan banyak buruh, terutama buruh kasar ( unskil labor ) yang tidak dapat dipenuhi oleh masyarakat perkotaan ( urban ). Oleh karena itu perusahaan – perusahaan asing ini perlu mempekerjakan masyarakat pedesaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerjanya.

Bagi masyarakat desa ini merupakan kesempatan besar dimana mereka bisa bekerja dan menerima gaji yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan lokal. Tetapi perusahaan – perusahaan ini juga setelah berjalan beberapa tahun mulai menetapkan standard pendidikan minimum dalam penerimaan karyawan. Oleh sebab itu tingkat populasi desa untuk masuk sekolah mulai meningkat denngan drastis. Begitupun dengan masyarakat perkotaan tingkat untuk masuk ke sekolah yang lebih tinggi ( sampai level universitas juga meningkat ).

Secara umum hasil yang didapat diawal indikasinya bahwa efek dari FDI ber beda – beda di level – level sekolah dalam satu kurun waktu. Keuntungan dari human capital tidak begiut signifikan di tahun 1980an dimana propinsi yang ada ETDZ mengalami peningkatan yang sedikit untuk level sekolah menengah atas dibandingkan dengan propinsi yang tidak ada ETDZ. Namun mengalami peningkatan yang sangat signifikan pada level sekolah menengah pertama dan universitas pada daerah yang ada ETDZ dibandingkan yang tidak ada ETDZ.

Hasil yang sama juga terjadi pada era 1990an tetapi dengan perbedaan yang jauh lebih signifikan dimana peningkatan pendidikan untuk masyarakat pedesaan untuk universitas dan profesional serta techical education lebih tinggi untuk daerah yang ada ETDZ dibandingkan dengan darah yang tidak ada ETDZ. Sebagai kesimpulan, inflow FDI di China memberikan efek peningkatan human capital terutama untuk masyarakat pedesaan. 5. Perbandingan dengan Batam Otorita Batam di dirikan pada tahun 1973 melalui Kepres No.

41 tahun 1973, yang sebelumnya pada awal 1970an digunakan untuk basis logistik untuk industri minyak dan gas bumi yang dikelola Pertamina. Pengembangan Pulau Batam terbagi dalam beberapa periode . Periode pertama yaitu tahun 1971-1976 dikenal dengan nama Periode Persiapan yang dipimpin oleh Dr. Ibnu Sutowo. Periode kedua adalah Periode Konsolidasi (1976-1978) dipimpin oleh Prof. Dr. JB. Sumarlin , Setelah itu adalah Peride Pembangunan Sarana Prasarana dan Penanaman Modal yang berlangsung selama 20 tahun. Yaitu tahun 1978-1998, yang diketuai Prof.

Dr. BJ. Habibie. Kalau dilihat dari sejarahnya otorita batam didirikan 5 tahun lebih awal dibandingkan dengan China sebelum open door policy. Namun kalau dilihat dari nilai investasi otorita Batam sejak awal berdiri sampai pada pertengahan 2008 total investasi belum mencapai US$ 200 milyar. Dari nilais US$200 milyar tersebut hanya sekitar 35% berasal dari investasi asing. Yang 65% adalah nilai investasi pemerintah dengan investor swasta. Sedangkan China dari awal tahun 1980 sampai pada 2002 investasi asing yang masuk hampir mencapai US$500 milyar.

Memang pada kenyataannya FDI di Batam tidak akan bisa menyaingi Cina karena skala ukurannya yang memang jauh berbeda. Tabel 1 Investasi di Batam tahun 1990-2008 Sumber : www. batam. go. id Harapan untuk mengejar ketertinggalan pengembangan kawasan investasi di Batam kini berada pada Badan Pengusahaan (BP) Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (FTZ) Batam yang dibentuk dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, yang diperbarui dengan UU No 44/2007.

Memang tidak terlalu mudah bagi BP FTZ Batam yang dibentuk pada September 2008 untuk mengejar ketertinggalan itu. Jika daya saing lemah, Batam sebagai kawasan FTZ pun akan ditinggal oleh investor baru. Investor mungkin memilih daerah lain dengan infrastruktur yang lebih maju dan berdaya saing. Bahkan, jika persaingan merebut investasi lemah, tidak menutup kemungkinan investor yang ada pun meninggalkan Batam. Tabel 2 Indikator statistik Batam tahum 2004-2008 Sumber : www. batam. go. id Beberapa hal dasar yang menyebabkan Batam kurang sukses dibandingkan dengan Cina adalah sebagai berikut : 1.

Visi dan Misi : Otorita Batam tidak memiliki visi dan misi yang fokus ( dalam hal ini misi dan visi nya : pariwisata, transhipment, perbankan, industri ), sedangkan economic zone Cina memiliki visi dan misi yang fokus seperti, membangun ekonomi yang berorientasi ekspor & pengembangan teknologi. Selama 35 tahun Otorita Batam berdiri tidak ada pembangunan pelabuhan dengan fasilitas kelas internasional, sedangkan pelabuhan peti kemas Batu Ampar fasilitasnya sangat minim, sehingga tidak mungkin bersaing dengan Singapura dan Malaysia dengan Iskandar Development Region (IDR) di Johor Baru.

2. Landasan Hukum : Otorita Batam sampai tahun 2007 tidak memiliki undang –undang maupun PP yang dapat menarik investor asing untuk masuk ke Indonesia. Landasan undang –undang Otorita Batam hanya sebatas masalah mengatur birokrasi pemerintah dan Otorita Batam itu sendiri. Sedangkan di Cina dalam economic zone, pemerintah Cina membuat undang – undang memberikan insentive kepada investor untuk berinvestasi di Cina, seperti insentive terhadap tax dan boleh melakukan perdagangan bebas dalam aturan international trade.

Peraturan tersebut yaitu : - PP No 46 Tahun 2007, tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam - PP No 47 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan - PP No 48 Tahun 2007 Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun 3. Komitmen pemerintah Indonesia untuk Batam kurang kuat dan kurang jelas arahnya. Sehingga pembangunan infrastruktur di Batam dinilai oleh investor asing kurang memadai. Sedangkan pemerintah Cina memberikan komitmen yang kuat dalam pembangunan zona ekonominya dengan membangun infrastruktur yang baik seperti, jalan, pelabuhan, transportasi, utility dan telekomunikasi.

Tabel 3. Panjang Jalan Menurut Permukaan 2001-2007 (Km) Sumber : www. pemko_batam. go. id Jika dilihat dari penambahan jalan, maka hanya sedikit penambahan jalan aspal dari tahun 2001-207 sedangkan jalan kerikil dan tanah meningkat cukup signifikan. 4. Tumpang tindih kewenangan dan ketentuan regulasi birokrasi antara Badan Otorita Batam dan Pemkot Batam/Pemda Kepulauan Riau. 5. Dalam kaitannya dengan human capital, efek dari inflow FDI tidak dapat diukur. Karena ketiga hal tersebut diatas inflow FDI tidak dapat dikatakan dapat mempengaruhi perkembangan human capital di Indonesia.

Selain itu letak geografis Batam yang bisa dikatakan ‘terpencil’ dimana jumlah penduduk sangat sedikit. Penduduk Batam sebagian besar bisa dikatakan adalah pendatang dari pulau-pulau lain yang memang ingin sengaja datang untuk bekerja untuk beberapa tahun ( sifatnya temporer ). Sedangkan di Cina, penempatan zona ekonomi selain di tempat yang strategis ( seperti Shanghai, Guandong, Shenzen, dan Beijing ), zona ekonomi juga dikembangkan di area rural ( pedesaan ) dimana yang jumlah penduduknya banyak dan membutuhkan lapangan pekerjaan ( seperti pesisir Mongolia, Tibet dsb ). Gambar 1 Special Economics Zone China